Blackwood Psychiatric Hospital
Hari 1
Senin | 08.00 Pagi
Suara hujan menghantam jendela-jendela besar Blackwood Psychiatric Hospital saat pintu baja di belakangmu perlahan menutup.
CLANG.
Terlambat untuk berbalik.
Udara dipenuhi aroma disinfektan, lembap, serta samar-samar bau logam yang mustahil diabaikan.
Lorong rumah sakit itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Beberapa pasien mengamatimu dari jendela kecil di pintu kamar mereka.
Tak ada satu pun yang berbicara.
Mereka hanya mengikuti setiap langkahmu dengan tatapan mata.
Sesampainya di area administrasi, seorang pria bertubuh tinggi telah menunggu di samping meja resepsionis.
Seragamnya rapi tanpa cela.
Sarung tangan hitam.
Lingkar hitam pekat menghiasi bawah matanya.
Ekspresinya benar-benar datar.
Suara beratnya memecah keheningan.
"Good morning, Doctor."
Ia mengangguk tipis.
"I am Owen Voss, head nurse of this hospital. I will be in charge of assisting you during your stay at Blackwood."
Ia menyodorkan sebuah map tebal kepadamu.
"Here you will find the hospital rules... and the files of your assigned patients."
Tanpa menunggu jawaban, ia melanjutkan.
"You will treat only three patients per shift. Under no circumstances should you alter the order of the consultations."
Kamu membuka map itu.
Pasien Terdaftar
08.30 Pagi
Patient 001 Damian Ashcroft
Diagnosis: Gangguan kepribadian antisosial dengan kecenderungan perilaku yang sangat brutal.
Catatan: "Do not remove the handcuffs. Do not stay in the room for more than fifteen minutes."
10.00 Pagi
Patient 002 Lucien Moreau
Diagnosis: Kemampuan manipulasi psikologis tingkat ekstrem.
Catatan: "If he knows personal information about you that you never revealed... end the consultation immediately."
11.30 Pagi
Patient 003 Noah Sterling
Diagnosis: Amnesia disosiatif.
Catatan: "If he stops drawing during the consultation, leave the room without looking back."
Patient 004
Emil Laurent
Diagnosis: Antisocial Personality Disorder dengan psychopathic traits.
Catatan: "Do not accept gifts from him."
"If he asks you to play a game... decline politely."
"Never tell him you're proud of him."
Patient 005
Elliot Vance
Diagnosis: Delusional Disorder (Jealous Type).
Catatan: "Never mention another patient's name during his session."
"Do not tell him you will 'be back later' unless you intend to return."
"If he asks who your favorite patient is... do not answer."
Patient 006
Aster Rosenthal
Diagnosis: Delusional Disorder (Erotomanic Type).
Deskripsi Singkat: Seorang pria dengan penampilan yang begitu anggun hingga banyak orang salah mengira dirinya perempuan. Rambut peraknya terawat rapi, kulitnya pucat, gerak-geriknya lembut, dan ia selalu meminta aksesori feminin setiap kali mendapat kesempatan. Ia senang mengenakan pakaian bergaya feminin dan selalu bertanya apakah dirinya terlihat cantik hari itu.
Catatan: "Never compliment his appearance unless you truly mean it."
"If he asks whether he is beautiful... answer carefully."
"Do not accept flowers from him."
Kamu membalik halaman berikutnya.
Hanya ada satu lembar.
Tanpa nomor jadwal.
Tanpa tanda tangan.
Tanpa stempel rumah sakit.
Patient 000
Azrael
Status: Tidak terdaftar.
Diagnosis: Unknown.
Seluruh identitasnya dikosongkan.
Tanggal masuk tidak tercatat.
Tidak ada dokter penanggung jawab.
Tidak ada riwayat pemeriksaan.
Hanya terdapat satu kalimat yang diketik dengan tinta hitam.
Observation:
"If you ever meet Patient 000..."
"Do not ask his name."
Sebelum sempat membaca lebih jauh, Owen mengambil lembar itu dari tanganmu.
Tatapannya tetap datar.
"That file shouldn't be there."
Ia melipatnya sekali, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya seolah tak pernah ada.
"Forget what you just saw."
Perlahan, kamu menutup kembali map itu.
Owen sudah lebih dulu berjalan menyusuri lorong.
"Follow me, Doctor."
Suara langkah sepatunya bergema tenang di atas lantai marmer.
Ia berhenti di depan sebuah pintu baja besar yang diperkuat.
Sebuah plakat sederhana terpasang di sana.
PATIENT 001
Owen memasukkan kunci, memutar penguncinya, lalu berbicara tanpa menoleh kepadamu.
"One last piece of advice."
Ia terdiam sejenak.
"Do not believe everything the patients tell you..."
"...but do not believe everything this hospital tells you, either."
Pintu itu mulai terbuka perlahan.
Di baliknya, seorang pria berambut hitam duduk diam, kedua pergelangan tangannya diborgol pada meja besi.
Matanya perlahan terangkat hingga bertemu dengan tatapanmu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan mutlak...
Lalu, sebuah senyum tipis yang nyaris tak terlihat terukir di wajahnya.
"I thought you weren't coming this time either, Doctor."